Hakekat Mati Bunuh Diri

  • 0

Hakekat Mati Bunuh Diri

Oleh: DR. Saiful Jazil, M. Ag

IMG-20150425-WA0002Akhir-akhir ini banyak terjadi peristiwa memilukan, yaitu  mati dengan jalan bunuh diri. Hal ini bukan hanya dilakukan oleh individu saja, melainkan dilakukan secara masal bersama-sama. Seperti yang terjadi di Kabupaten Kediri, tepatnya Warga Desa Minggiran, Kecamatan Papar, Jawa Timur. Satu keluarga ditemukan tewas dalam kamar. Satu keluarga ini masing-masing Yudi Santoso, Pajar Retno, dan anaknya, Ola anaknya (7). Diduga, mereka bunuh diri. Aksi nekat ini dilakukan akibat terhimpit persoalan ekonomi. Ini terjadi pada hari Jumat , 3  April 2015.

Berikutnya adalah Anggota Kepolisian Sektor (Polsek) Manggala, Brigadir Arifin, 40 tahun, nekat menembak kepalanya sendiri di Ruang Unit Provost Polsek Manggala, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 4 April 2015 sekitar pukul 07.50 Wita. Belum diketahui pasti apa motif Arifin melakukan aksi bunuh diri tersebut.

Peristiwa berdarah terjadi lagi di dalam kantor polisi di Mumbai. Seorang polisi tewas, dan dua rekannya terluka hingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Lilavati, Mumbai. Peristiwa berdarah itu berawal ketika saat Dilip Shirke beradu argumen dengan seniornya Inspektur Vilas Joshi. Saat Inspektur Joshi meninggalkan kantor polisi, Shirke mengeluarkan pistol dan menembakkan ke arah seniornya itu. Setelah Shirke  melakukan tindakan konyol itu, ia kemudian menembakkan dirinya sendiri hingga tewas. Tentu masih banyak lagi peristiwa serupa yang patut dijadikan pelajaran bagi kita semua.

Na’udzubillah, jangan sampai kita sebagai umat Islam melakukan tindakan bunuh diri, karena bunuh diri termasuk dosa yang sangat besar, karena pelakunya diancam oleh Nabi SAW untuk disiksa di neraka dengan cara sebagaimana dia membunuh jiwanya. Sementara orang yang melakukan bunuh diri sampai mati, tidak ada lagi kesempatan bertaubat baginya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, Nabi SAW  bersabda:

 مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ في نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيها أَبَدًا، وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ في يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ في نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فيها أَبَدًا، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَديدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ في يَدِهِ يَجَأُ بِها في بَطْنِهِ في نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيها أَبَدًا

Siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung hingga mati maka di neraka jahanam dia akan (disikasa) dengan menjatuhkan dirinya, kekal di dalamnya selamanya. Siapa yang menenggak racun sampai mati, maka racun itu akan diberikan di tangannya, kemudian dia minum di neraka jahanam, kekal di dalamnya selamanya. Siapa yang membunuh dirinya dengan senjata tajam maka senjata itu akan diberikan di tangannya kemudian dia tusuk-tusukkan perutnya di neraka jahanam, kekal selamanya.” (HR. Bukhari 5778 dan Muslim 109).

           Di samping itu, orang yang mati bunuh diri adalah orang yang putus asa terhadap rahmat Allah SWT. Padahal, Allah  telah memberikan segala yang dibutuhkan manusia. Allah memberi kita kondisi fisik yang sempurna dibanding dengan makhluk lainnya, ditambah dengana hati, akal dan fikiran agar menggunakan dengan sebaik-baiknya untuk keperluan hidup ini. Bahkan Allah telah berjanji akan mencukupi dan menyelesaikan semua urusannya asalkan mau berusaha dan meminta kepadaNya. Kehilangan keyakinan terhadap Allah Yang Maha Segalanya adalah tindakan nista dan sama dengan mengabaikan Allah. Karena itu, orang yang bunuh diri bisa dikatakan tak pantas lagi mengaku sebagai muslim, dia telah merampas hak Allah terkait dengan kematian. Ia juga bisa dianggap menentang taqdir Allah yang belum saatnya tiba. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلاَ تَيْأَسُواْ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِنَّهُ لاَ يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Yusuf: 87).

Dari ayat tadi diperoleh pelajaran bahwa:

  1. Untuk memperoleh pertolongan dan rahmat Allah, orang harus bergerak dan berusaha bukan dengan duduk berdiam diri di dalam rumah dan menunggu turunnya rahmat Ilahi. Nabi Ya’qub berkata kepada putra-putranya, “Untuk menemukan Yusuf kalian harus bergerak dan jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah.
  2. Ayat ini juga mendorong manusia untuk tetap berharap kepada rahmat dan pertolongan Allah dan mengembalikan semua urusan hanya kepada Allah. Dengan mengerahkan segala kemampuan, akal fikiran baik lahir maupun batin sebagai anugerah terbesar dari Allah untuk meraih pertolonganNya.
  3. Allah pasti akan memberikan pertolongan pada saatnya, hanya tinggal menunggu waktu dengan bersabar. Karena Allah Maha Tahu yang terbaik buat hambaNya, Dia tidak memberikan sesuatu yang kita inginkan, tapi Allah akan memberikan sesuatu yang kita butuhkan. Jika ada seseorang yang membuat orang lain berputus asa, demikian pula orang yang berputus asa itu sendiri, maka orang tersebut termasuk golongan orang-orang kafir, na’udzubillah min dzaalik.

Semoga kita tidak mudah putus asa dan semoga diberi kekuatan iman lahir dan batin agar selamat dunia dana akhirat. Amin..

 


Leave a Reply