Kajian Al-Qur’an

  • 0

Kajian Al-Qur’an

Hidup Damai dengan Hiburan Malaikat

Oleh: Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M. Ag (Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya)

 

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

 “Sungguhorang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, “Janganlah kalian takut dan jangan pula bersedih; dan bergembiralah (mereka) dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS Fushilat 41:30)

 Maukah Anda didampingi para malaikat yang menghibur ketika Anda bersedih dan membisikkan kata penyemangat ketika Anda hampir putus asa? Melalui ayat di atas, Allah menawarkan kesempatan emas tersebut. Siapapun Anda berhak untuk mendapatkannya, asalkan Anda menyatakan beriman sepenuh hati kepada Allah, lalu tidak goyah sekalipun menghadapi tantangan penuh resiko. Inilah yang disebut istiqamah.  Banyak orang menyatakan keimanan melalui lisannya, namun tidak konsisten dalam tindakan, lebih-lebih ketika menghadapi godaan kenikmatan. Imannya naik turun bersamaan dengan gelombang kehidupan, mendekat Allah ketika susah, lalu menjauh dari-Nya ketika bebas dari masalah. 

 Iman yang istiqamah bisa diibaratkan sebuah gunung. Ia tidak membeku sekalipun udara sangat dingin, tidak bergerak sekalipun ada badai, tidak meleleh sekalipun cuaca sangat panas, dan tidak terseret air sekalipun terjadi banjir bandang. Buah utama dari istiqamah adalah tumbuhnya rasa senang dan tenang karena kedekatannya kepada Allah, sehingga tidak menoleh kepada siapapun selain kepada Allah SWT. 

Istiqamah merupakan prestasi besar bagi orang mukmin. Hanya orang istimewa yang bisa melakukannya. Istiqamah baru bisa dilakukan ketika seseorang sudah mampu melawan kebiasaan buruk sehari-hari, jujur dan bersungguh-sungguh. Jadi bukti istiqamah adalah, bertauhid dengan lidah, memantapkan tauhid dengan hati dan menjalankannya dengan benar sampai wafat.

Semakin berat tantangan keimanan, semakin terlihat istiqamah seseorang. Orang  istiqamah akan menolak ajakan zina orang yang paling dikasihi ketika segalanya memungkinkan dan kerahasiaan juga terjamin. Itulah bukti sederhana istiqamah. Orang istiqamah tidak akan mengambil uang yang tidak halal sedikitpun, walaupun ia sangat membutuhkan uang untuk pengobatan anak yang sedang dioperasi di rumah sakit.

Bilal bin Rabbah adalah contoh muslim istiqamah. Ia tetap berani mengatakan ”Tiada Tuhan selain Allah” sekalipun berat resikonya. Kedua kakinya diikat di kaki kuda yang berlari di jalan utama kota Makkah, sehingga darah tercecer dari kepalanya. Penyiksaan itu dialami Bilal tidak sekali dua kali.  

Ada kisah yang erat kaitannya dengan janji Allah di atas. Pada tahun perang Khoibar, datanglah Imran bin Hushain kepada Rasulullah SAW. Ia letakkan tangan kanannya di atas tangan kanan Rasulullah SAW untuk menyatakan kesetiaan, dan bersumpah tidak akan menggunakan tangannya kecuali untuk berbuat kebajikan. Setelah sumpah setia itu, ia tidak pernah absen dari kajian Islam Rasulullah SWT bersama para sahabat. Suatu saat, ia sangat tertarik dengan dialog Nabi dengan para sahabat pada kajian tersebut.

”Wahai Rasulullah, jika saya berada di dekatmu, tenanglah hati saya. Rasanya tidak ada lagi keinginan duniawi. Bahkan seolah-olah saya bisa menerawang akhirat dengan jelas. Namun ketika jauh darimu dan kembali di tengah keluarga beserta anak-anak, saya lupa diri lagi,” tanya sebagian sahabat. Rasulullah SAW menjawab, ”Demi Allah yang menguasai diriku, seandainya kamu semua selalu dalam keadaan seperti ketika kalian di sisiku, para malaikat pasti akan menampakkan diri untuk berjabat tangan denganmu. Tapi, yang demikian itu tidak bisa terus menerus atau hanya sewaktu-waktu”.

Dalam ayat di atas, orang yang istiqamah akan memperoleh bisikan para malaikat, Jangan takut dan jangan bersedih. Bergembiralah dengan surga yang sudah tersedia untukmu”. Kapan para malaikat itu datang? Imam Mujahid, As-Suddi dan Zaid bin Aslam mengatakan bahwa para malaikat itu datang ketika orang mukmin menghadapi sakaratul maut (detik-detik terakhir kahidupan). Dengan wajah berseri-seri, para malaikat memanggil ruh orang yang istiqamah,”Wahai ruh yang baik dalam jasad yang baik pula, keluarlah untuk menemui Tuhan yang tidak marah kepadamu”.

Menurut At-Thobari dari Ibnu ’Abbas, para malaikat itu datang ketika orang-orang mukmin dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat kelak. Sebagian ahli tafsir mengatakan malaikat datang pada saat orang mukmin menghadapai pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Hamka menafsirkan secara lebih luas, para malaikat itu datang kepada orang yang mukmin dan istiqomah  kapan saja dalam hidup sekarang, sebab ayat berikutnya berbunyi, ”Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”.(QS Fushilat [41]:31).

Imran bin Hushain penasaran dengan jawaban Nabi SAW, kenapa ”berjabat tangan” dengan malaikat hanya sewaktu-waktu? Andai selamanya tentu lebih menyenangkan. Oleh sebab itu, ia berjanji untuk menambah ibadahnya kepada Allah. Semakin hari, semakin bersemangat ibadahnya. Ketika ia sampai pada puncak ibadahnya, ia mengatakan ”Oh Allah, mengapa aku tidak Kau jadikan debu saja”. Semakin mengetahui keagungan Allah, ia semakin mengetahui keterbatasannya untuk memuji dan menyanjung Allah. Ia kehabisan kata untuk mengagungkan Allah sesuai dengan kebesarannya.

Masalah hidup selalu hadir pada siapa saja dan kapan saja: masalah rumah tangga, pekerjaan, kesehatan, pergaulan di tengah-tengah masyarakat dan sebagainya. Sebagian orang berhasil melalui ujian itu dengan kesabaran, dan sebagian yang lain murung bercampur marah. Bahkan ada yang bunuh diri dengan ”terjun bebas dari lantai 11”. Kesedihan yang berlarut-larut atau keputusasaan itu tidak akan dialami orang-orang yang istiqamah, sebab Allah SWT sudah menunjuk beberapa malaikat untuk mengawal, menolong dan memberi kalimat penguat kepadanya.  

dikutip dari Majalah Sabilillah Edisi Muharram 1435 H / Desember 2013 hal. 4

baca selanjutnya Majalah Sabilillah


Leave a Reply