MAKANAN SEHAT

  • 0

MAKANAN SEHAT

MAKANAN SEHAT, MAKANAN TANPA SETAN


2_168

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.(QS Al Baqarah [2]: 168)

Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kekuasaan-Nya dalam pengaturan waktu siang dan malam dan menyediakan segala yang dibutuhkan manusia di laut dan di darat, termasuk menurunkan hujan untuk menyuburkan tumbuhan yang sangat penting untuk kelangsungan dan kenikmatan hidup manusia. Pada ayat ini, Allah memerintahkan kita agar melakukan seleksi makanan. Hanya yang halal dan baiklah yang harus dikonsumsi. Mengonsumsi makanan tanpa seleksi halal dan haram adalah pola hidup setan.

Saya teringat ayat di atas bukan ketika berada di pesantren, tapi ketika berada di negara ateis. Dalam penyeberangan kapal dari Hong Kong menuju kota judi, Macau, saya duduk berhadapan dengan karyawan sebuah perusahaan penerbangan di China. Pria muslim Indonesia itu menceritakan kesungguhan perusahaannya untuk memperoleh jaminan sertifikat halal untuk semua sajian dalam penerbangan. Dengan demikian semua penumpang, muslim atau tidak, menikmati sajian yang sama: halal.  Selama ini, penumpang muslim harus memesan makanan muslim ketika membeli tiket.

Kita sangat bergembira dengan gaung kampanye dunia untuk makanan halal. Sebagian dilatarbelakangi kompetisi bisnis dan sebagian yang lain karena kesadaran keagamaan.  Ada sekitar 1,82 milyar muslim di dunia pada 2009. Diproyeksikan pada 2025, penduduk muslim 30% dari populasi dunia. Ini pasar potensial yang diperebutkan produsen dalam perdagangan antar negara.

Pada tanggal 16 Januari 2012, diselenggarakan di Jakarta Pertemuan Dewan Pangan Halal Dunia atau The World Halal Food Council (WHFC) yang diikuti beberapa negara anggota:  AS, Belgia, New Zeland, Australia, Brazil, Swiss, Jerman, Belanda, Polandia, Italia, Spanyol, Malaysia, Singapura, Philipina, Turki, dan Taiwan. Sebanyak 300 peserta dari 24 lembaga sertifikasi halal dari 14 negara anggota hadir pada acara yang diselenggarakan oleh LPPOM (Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika) Majlis Ulama Indonesia (MUI). Indonesia pantas menjadi ketua oragnisasi itu sekaligus penyelenggara karena muslim Indonesia sebanyak 200 juta. Jumlah itu  sama dengan  muslim di enam Negara Islam: Saudi Arabia, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, Malaysia dan Turki. (Duta 17-1-2012). Pada 23-25 Juli 2010, Indonesia juga menggelar Pameran Internasional Makanan dan Bisnis Halal atau International Halal Business & Food Expo (IHBF).

Sekalipun jumlah muslim Indonesia begitu besar, namun kita masih malu dengan negara tetangga kita, Singapura. Di negeri ini, jika seorang berkerudung masuk restoran penyedia makanan haram, baru sampai di pintu, ia ditolak. Pemilik restoran akan memberitahu, “Maaf, ini bukan untuk muslim, silakan cari yang lain”. Di Inggris berkembang industri kosmetika dan toko daging (butcher) halal. Sekarang hampir di seluruh kawasan belanja di Inggris mudah ditemukan butcher halal. (Sucipto, STP. MP, Unibraw Malang).

Orang Islam sangat selektif makanan, sebab hal itu diatur secara tegas dalam Al Qur’an. Berdasar ayat di atas, ada tiga pedoman dalam mengonsumsi makanan menurut Islam. Pertama, halal. Artinya secara substansial, makanan itu tidak dilarang menurut Islam, cara masaknya benar, demikian juga cara memperolehnya. Ayam adalah halal, tapi jika disembelih tanpa basmalah atau hasil curian milik tetangga, maka menjadi haram. Ikan bakar halal, tapi berubah menjadi haram jika dibeli dengan uang hasil korupsi. Sebaliknya, babi tetap haram, sekalipun disembelih dengan bacaan Al Fatihah atau dibeli dengan uang dari hasil kebun kurma.

Kedua, thayyib artinya menyehatkan, mudah dicerna oleh alat-alat pencernaan, bukan justeru merusak tubuh. Makanan yang tidak thayyib, antara lain (1) makanan yang mengandung zat additif yang beracun dalam jangka pendek maupun jangka panjang, yaitu borak, formalin, dan sebagainya. (2) mengandung bahan halal namun dalam jumlah yang berlebihan sehingga dapat menggangu kesehatan. Misalnya minuman kesehatan yang mengandung kadar caffeine atau gula yang tinggi. (3) menyebabkan ketergantungan, dan (4) makanan yang secara subyektif berbahaya, misalnya gula bagi penderita kencing manis, lemak bagi penderita hipercholestrolemia.

Islam mengajarkan kesehatan, sebab kesehatan itu amanat Allah yang wajib dijaga. Oleh sebab itu, Allah SWT melarang keras makan, minum atau melakukan tindakan apa saja yang merusak kesehatan. “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah [2]:195).

Pada beberapa ayat yang lain disebutkan jenis-jenis makanan yang thayyib yaitu, pada QS. Al Nahl [16] ayat 5 tentang tujuan konsumsi daging hewan untuk menghindari penyakit hati, menguatkan otot-otot, menguatkan otak dan menghindari anemia; QS. Al Nahl [16] ayat 14 tentang tujuan konsumsi daging ikan untuk mempertinggi protein, menghasilkan minyak ikan sebagai sumber kalsium dan yodium, dan Al Nahl [16] ayat 66 tentang tujuan konsumsi susu untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D.  Allah SWT juga menjelaskan dalam al-Qur’an tentang pentingnya madu dan buah-buahan untuk kesehatan dalam Al Nahl [16] ayat 67 dan 68) dan sayur-sayuran serta buah-buahan dalam QS. Al Baqarah[2] ayat 61 dan Ar Rum [30] ayat 23) (LPPOM MUI)

Makanan yang tidak halal dan tidak thayyib berdampak pada kualitas keimanan anak-anak dan keluarga. Imam al-Ghazali berpesan, “Jauhkan anak-anakmu dari makanan syubhat (tidak jelas-jelas halalnya), lebih-lebih yang haram. Sebab, setitik air atau makanan yang pernah dimakan orang tua, akan pindah kepada anak yang dilahirkan menjadi daging dan dalam daging itulah tertanam bibit yang merusak akhlak dan otak di kemudian hari.” Pada hadits Rasulullah yang diriwayatkan Al Bukhari dijelaskan bahwa tanggung jawab langsung mengenai makanan anak adalah orang tua. Maka mereka wajib memberi makanan halal dan thayyib bagi anak sejak usia dini.

Akibat lain dari makanan yang tidak halal adalah tertolaknya doa kita. Rasullulah SAW bersabda, “….Kemudian Nabi SAW menceritakan seorang lelaki yang telah jauh perjalanannya dengan rambutnya yang kusut, kotor, penuh debu, yang menadahkan kedua tangannya seraya berdo’a, “Wahai Tuhanku padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan barang yang haram, bagaimana mungkin dikabulkan do’anya? (HR.Muslim dari Abu Hurairah r.a).

Masih ada satu lagi pedoman makanan yang ketiga, yaitu mengonsumsi secara proporsional, tidak melebihi dari yang dibutuhkan tubuh. Allah SWT tidak menyukai orang yang makan dan minum melebihi dari kebutuhan, sebab makanan tersebut menjadi sumber penyakit. Oleh sebab itu, tahanlah untuk tidak mengonsumsi makanan apapun, lebih yang paling Anda sukai, jika tubuh tidak sangat membutuhkannya. Jika Anda sedang asyik menikmati hidangan yang lezat, berhentilah ketika tubuh sudah cukup dengan makanan tersebut, sekalipun belum kenyang. Allah berfirman, “..makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al A’raf [7]:31).

Setiap muslim harus melakukan pemeriksaan berlapis setiap mengonsumsi makanan. Halal atau tidak? Jika halal, thayyib atau tidak? Setelah jelas halal dan thayyib, maka cara makan dan porsinya harus diperhatikan. Semua makanan yang tidak melalui seleksi di atas, adalah makanan yang mengandung setan. Jika tubuh berisi makanan bersetan, tidak mungkin bisa digerakkan ke alam malaikat untuk ketaatan kepada Allah. Pada ayat tentang makanan di atas, Allah menutup firman-Nya, “..dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sungguh,setan itu musuh yang nyata bagimu.(QS. Al Baqarah [2]: 168). Kehati-hatian mengonsumsi makanan seperti itulah yang membedakan kita dengan setan, orang kafir dan hewan. Allah berfirman, “..dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS Muhammad [47]:12).

Kita berikan apresiasi kepada MUI (Majlis Ulama Indonesia) melalui LPPOM yang membantu kita memilih makanan yang halal, dan para dokter dan ahli gizi untuk seleksi makanan yang thayyib. Apresiasi yang sama diberikan untuk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang menyelamatkan bangsa dari hasil usaha yang haram. Mereka semua telah berjasa menjauhkan kita dari makanan yang merusak raga dan karakter.

 


Leave a Reply