CINTA NABIKU

  • 0

CINTA NABIKU

CINTA NABIKU

Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag.

 wpid-bukan-surat-cinta

”Jika Engkau menyiksa mereka, maka sungguh, mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh, Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.  (QS. Al Maidah [5]:118)

 

 Ayat diatas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang berisi dialog Nabi Isa a.s. dengan Allah SWT. ”Apakah engkau menyuruh orang-orang untuk menjadikan kamu dan ibumu sebagai Tuhan?,” tanya Allah SWT. kepada Nabi Isa. ”Subhanallah. Engkau Maha Tahu, tidak mungkin aku melakukan hal itu,” jawab Nabi Isa. Dari dialog itu, maka jelaslah bahwa orang-orang yang menuhankan Nabi Isa a.s. dan ibunya, Maryam semata-mata berdasar karena kesesatan pikiran mereka sendiri. Pantaslah, jika Allah memberi ancaman mereka siksa yang pedih.

Mendengar ancaman siksa itu, Nabi Isa a.s. tidak tega melihat umatnya tersiksa kelak.  Dengan bahasanya yang lembut dan penuh kasih, Nabi Isa a.s. memohon kepada Allah, sebagaimana disebutkan di atas, ”Jika Engkau menyiksa mereka, maka sungguh, mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh, Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Dengan kata lain, Nabi Isa a.s. memohon, ”Wahai Allah, sudah cukup alasan bagi-Mu untuk menyiksa mereka. Engkau Maha Perkasa untuk menyiksa mereka. Namun, kasihanilah mereka. Tidakkah mereka hamba-hamba-Mu juga?  Engkau pasti Maha Pengasih dan Maha Pengampun.” Dalam Kitab At-Tas-hil Li’ulumit Tanzil oleh Ibnu Abi Jazi dikatakan, ”Allah bisa bertindak apa saja sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak ada satupun makhluk yang bisa menghalangi-Nya: menyiksa atau mengampuni. Nabi Isa a.s. hanya memohon belas kasihan, dan menyatakan penyerahan kepada Allah dan mengagungkan-Nya.

Dalam Mushaf Al-Qur’an versi Ibnu Mas’ud, ujung ayat 118 urat Al Maidah di atas berbeda dengan yang tertulis dalam Mushaf Usmani, sebagaimana yang beredar di Indonesia dan dunia Islam saat ini. Menurut Ibnu Mas’ud, penutup ayat di atas berbunyi, ”fainnaka antal ghofururrohim” yang artinya, ..(Jika Engkau menyiksa mereka), maka sungguh Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang)”

Kecintaan para nabi kepada umatnya juga ditunjukkan Nabi Ibrahim a.s. yang diceritakan Allah dalam surat Ibrahim [14]:36 ”Wahai Tuhanku, sungguh berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia, maka siapapun yang mengikutiku, maka sungguh, ia termasuk golonganku, dan siapapun yang menentangku, maka sungguh, Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Ahli tafsir Al-Qaththan mengatakan, inilah bukti kasih, sayang dan kecintaan Nabi Ibrahim a.s. kepada umatnya. Nabi Ibrahim a.s. sama sekali tidak memohonkan siksa, apalagi untuk umat yang secara terang-terangan menentangnya. Dengan redaksi yang amat lembut dan kasih, Nabi Ibrahim a.s. justru memohonkan belas kasihan dan ampunan untuk mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s.

Nabi Muhammad saw. pernah menceritakan bagaimana kasih sayang dua Nabi yang telah mendahuluinya itu, dan bertekad menyontoh ketauladan mereka. ’Abdullah bin ’Amr bin al-’Ash r.a bercerita, “Suatu ketika, Nabi saw. membaca firman Allah tentang Nabi Ibrahim a.s. (QS Ibrahim [14]:36) dan tentang Nabi Isa a.s. (QS. Al Maidah [5]:118). Kemudian Nabi saw. mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, “Allahumma ummati, ummati” (Wahai Allah, tolonglah umatku, tolonglah umatku) lalu menangis. Allah SWT. lalu menyuruh Malaikat Jibril, ”Hai Jibril, temuilah Muhammad, dan Tuhanmu pasti sudah Mengetahui, tanyakan apa yang membuatnya menangis?”. Setelah bertemu Nabi saw., Jibril lalu melaporkan kepada Allah dan Allah pasti sudah Mengetahui sebab-sebab tangisan Nabi saw. Kemudian, Allah menyuruh Jibril lagi, ”Wahai Jibril, pergilah kepada Muammad dan katakan, ”innaa sanurdliika fii ummatika walaa nasuu-uka” (Sungguh, Kami (Allah) akan memberi kesenangan kepadamu (Muhammad) tentang umatmu dan Kami tidak akan memberatkanmu.” (HR. Muslim).

Pada detik-detik terakhir menjelang wafat, Nabi saw. didatangi Jibril  dan berkata, “Wahai Muhammad, tugas sebagai pengantar wahyu telah selesai. Inilah perjumpaan terakhir denganmu”. Rasulullah saw. kemudian bertanya berkali-kali dengan nada sedih, ”Wahai Jibril, siapa yang mengurus umatku sepeninggalku kelak”.

 Semua nabi termasuk Nabi saw. merasa bertangungjawab atas moralitas umatnya. Jika ada satu saja dari umatnya yang menyimpang dari ajaran Allah, para nabi itu bersedih. Mereka bertanya-tanya mengenai tugasnya, apa yang kurang dilakukan untuk membimbing umatnya, sehingga masih saja ada orang yang melakukan dosa. Oleh sebab itu, setiap dosa manusia adalah linangan air mata para nabi, padahal kadangkala pelakunya berbangga dengan dosanya. Kesedihan para nabi merupakan bentuk tanggungjawab atas kepemimpinannya, serta cinta kasih yang luar biasa untuk umatnya.  Para nabi adalah manusia biasa, dan pasti memiliki keterbatasan untuk membimbing umatnya. Karenanya, mereka hanya berkewajiban menyampaikan bimbingan, dan tidak dituntut Allah atas dosa umatnya, sebab mereka telah bekerja keras melaksanakan tugas itu secara maksimal.

Allah SWT. memuji kesungguhan Nabi saw. untuk mewujudkan keingininannya yang luar biasa untuk menjadikan umatnya sebagai manusia terbaik, serta cinta kasih dan pengurbanannya, bahkan kesiapannya untuk memikul semua penderitaan umatnya. Begitu besar kasih Nabi saw. kepada umatnya, sehingga ia tidak tega melihat satupun umatnya mendapat siksa seringan apapun. ”Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul (Nabi saw.) dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”.  (QS. At Taubah [9]: 128).

Tidak ada nabi yang mengemban tugas dan tanggungjawab melebihi Rasulullah saw. Beliau harus bertanggungjawab atas umat yang semasa dengannya dan manusia sepeninggalnya, dunia ini berakhir. Demi tanggungjawab dan cintanya kepada umatnya, Rasululah saw. tidak pernah tenang dalam alam kuburnya karena selalu menangis, ”Umatku, umatku…!”. Sebaliknya, semua kebaikan yang Anda lakukan merupakan bonus kebahagiaan bagi Nabi saw.

Saatnya, kita melakukan muhasabah (introspeksi diri), “Apa yang sudah kita lakukan untuk membalas cinta tulus Nabi saw.?. Dengan muhasabah itu, Anda akan menirukan syair lagu Bimbo dengan air mata,  ”Rindu kami padamu ya Rasul, rindu tiada terperi. Berabad jarak darimu ya Rasul, terasa dikau di sini. Cinta ikhlasmu pada manusia bagai cahaya suarga. Bisakah kami membalas cintamu secara bersahaja?”.