semua tentang qurban 1

  • 0

semua tentang qurban 1

yai aliProf. Dr. K.H. Moh. Ali Aziz, M. Ag Menjawab

Seputar Masalah Qurban dan Aqiqah

Pertanyaan 1 : Teman saya mempuanyai nadzar hendak membeli hewan qurban untuk kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya begitu juga untuk dirinya, suami dan anak perempuannya. Mereka belum aqiqah. Manakah yang saya dahulukan aqiqah atau qurban? Jawab : Nadzar hukumnya wajib dan harus dilaksanakan. Karena itu anda sebaiknya mendahulukan melaksankan qurban dari pada aqiqah. Dalam hal ini perlu diingat bahwa daging qurban karena nadzar, tidak boleh dimakan oleh orang yang bernadzar atau orang yang dinadzarkan walau hanya sedikit. Berbeda qurban bukan nadzar, dimana dagingnya bisa dimakan bahkan disimpan sedikit oleh pelakunya.

Pertanyaan 2 : Saya masih memiliki hutang di bank Hong Kong. Saya mengangsurnya setiap bulan. Tahun ini saya bermaksud menyembelih ternak untuk qurban. Apakah qurban ketika masih mempunyai tanggungan hutang dipernolehkan? Apakah qurban itu wajib hukumnya?Jawab : Jika anda merasa mampu dan tidak ada permasalahan dengan utang anda di bank, maka anda boleh melaksanakan qurban. Menurut imam Syafi’I, qurban hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) tidak sampai wajib.

Pertanyaan 3 :Ibu kandung saya sudah wafat. Sekarang saya memiliki ibu tiri. Saya ingin berqurban ternak untuk keduanya. Ibu yang manakah yang harus saya dahulukan?Jawab : Anda bertindak benar dan terpuji, karena anda memberikan perhatian hormat kepada orang tua tanpa membedakan ibu kandung dan ibu tiri. Sebaiknya dahulukan ibu kandung anda yang sedang dalam alam qubur dan sangat membutuhkan do’a dari anaknya yang masih hidup. Tapi beritahukan kepada ibu tiri terlebih dahulu. Mintalah doa kepdanya agar bisa berqurban untuknya tahun berikutnya.

Pertanyaan 4 : Saya sendiri belum Qurban, tapi saya ingin membeli ternak untuk qurban ibu saya. Sahkah qurban tersebut? Jawab :Qurban untuk ibu anda sah. Tahun berikutnya sebaiknyaberqurban untuk anda sendiri.

Pertanyaan 5 :Usia saya sudah 54 tahun dan sudah 11 tahun di Hong Kong. Apakah aqiqah untuk orang seusia saya ini sah ? Jawab : Menurut Nabi saw., aqiqah dilaksanakan pada hari ke-tujuh setelah kelahiran si bayi. Berarti jika pada hari itu orang tua memang tidak memiliki biaya aqiqah, maka gugurlah perintah aqiqah itu. Aqiqah juga perintah pada orang tua kepada anak, bukan perintah untuk seseorang kepada dirinya. Berdasarkan pemikiran ini, maka anda yang sudah memasuki usia lanjut tersebut tidak perlu  aqiqah. Jika anda tidak puas tanpa aqiqah diri sendiri, maka silahkan lakukan aqiqah dan anda tetap memperoleh pahala dari shadaqah kepada fakir miskin dan pahala silaturrahim dengan masyarakat sekitar.

Dalam kitab Fat-hul Mu’in, disebutkan bahwa aqiqah dilaksanakan pada hari yang ke-7, 14 atau 21 dari hari kelahiran si bayi. Boleh juga dilaksankan kapan saja selama belum baligh. Namun jika pada hari-hari tersebut yang bersangkutan belum mampu melaksanakannya karena tidak ada biaya atau tidak tahu, maka boleh ditunda selama ia masih hidup. Nabi Muhammad saw. Sendiri mengaqiqahi dirinya sendiri ketika beliu berusia 40 tahun. “ Nabi Muhammad saw. Mengaqiqahi dirinya sendiri setelah beliau diangkat menjadi Nabi”. (HR. Anas). (Ibnu Rusyd: tt., Vol. II, 339)

 Pertanyaan 6 : Bolehkah saya menyembelih ternak dengan niat aqiqah untuk bapak saya yang masih hidup?. Saya ingin menunjukkan bakti saya kepadnya, bahkan berencana menghajikan beliau. Jawab : Itu satu niatan yang benar-benar terpuji. Saya salut kepada anda. Jadi boleh anda beraqiqah untuk bapak anda dan juga boleh menghajikannya. (Ibnu Rusyd: tt., Vol. II, 339).

Pertanyaan 7 : Saya ingin qurban dan aqiqah untuk diri saya, karena menurut keterangan mbok (ibu kandung) saya belum diaqiqahi. Manakah yang saya dahulukan. Jawab : Hukum qurban dan aqiqah itu hamper sama. Sebagian ulama mengatakan wajib dan sebagian ulama mengatakan sunnah muakkadah. Menurut saya dahulukan aqiqah, baru tahun berikutnya menyembelih qurban.

 

(Diambil dari karya buku “Solusi Ibadah di Hong Kong” karya Prof. Dr. K.H. Moh. Ali Aziz  hal. 75-77)