Upaya Menggapai Rahmat Allah SWT

  • 0

Upaya Menggapai Rahmat Allah SWT

Category : Uncategorized

UPAYA MENGGAPAI RAHMAT ALLAH SWT

DR. H. SAIFUL JAZIL. M. AG

 

إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”

(al-A’raaf:56).

 

menggapi rahmat allah

Dari ayat di atas, diperoleh pemahaman bahwa rahmat Allah SWT itu akan senantiasa diberikan kepada sia

papun tanpa pandang bulu, dengan syarat “berbuat kebaikan (amal shaleh)”. Adapun, pengertian rahmat adalah Kasih Sayang atau Cinta Kasih  Allah Yang untuk semua hambaNya yang meliputi kehidupan dunia sampai akhirat”. Sebagaimana tersirat dalam kalimat Basmalah: “Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang”. Hanya saja, sebagian mufassiriin membedakan antara makna al-Rahman & al-Rahiim. Kalau al-Rahmaan itu  kasih sayang Allah untuk semua Hamba di dunia ini, baik yang beriman (mukmin) maupun yang tidak beriman (kafir). Sedangkan al-Rahiim diberikan khusus bagi hambaNya yg beriman saja  kelak di Akhirat.

            Bentuk amal shaleh sebagai jaminan untuk mendapatkan rahmatNya, sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah: 218:   

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَـئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللّهِ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Tafsir Ayat 218 surat al-Baqarah: “Di dalam ayat di atas Allah SWT menyatakan tiga syarat yang perlu dipenuhi terlebih dahulu oleh seorang manusia barulah dia layak digolongkan sebagai orang yang benar-benar telah mengharapkan Rahmat Allah, yaitu: IMAN, HIJRAH dan JIHAD FI SABILILLAH. 

  1. IMAN yang dimaksudkan adalah pengakuan dengan sepenuh hati, diucapkan dengan lesan dan dinyatakan dalam bentuk perbuatan bahwa Allah SWT adalah satu-satuNya Dzat yang berhak disembah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusanNya. Pengakuan ini diimplementasikan dalam bentuk menjalankan perintah dan menjahui laranganNya.
  2. HIJRAH ini mempunyai makna sempit dan luas, makna sempit hijrah adalah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi SAW berpindah dari makkah ke madinah. Sedang hijrah bermakna luas adalah meninggalkan hal-hal yang tidak baik menuju suatu perbuatan yang diridloi oleh Allah SWT.
  3. JIHAD FII SABILILLAH ini makna asalnya adalah berperang di jalan Allah melawan orang kafir. Sedangkan makna tersebut telah berkembang menjadi segala perbuatan baik dalam rangka membela agama Allah dan bermanfaat luas bagi kebaikan dan kemaslahatan umat manusia. Misalnya mengajar ngaji, membangun masjid, jalan, sekolah dan sebagainya.

            Melalui rahmat Allah inilah yang akan menentukan nasib kita nanti di hadapan Allah SWT. Hal ini bisa kita cermati melalui hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya:         

“Tidaklah amalannya yang memasukkan salah seorang di antara kamu ke dalam syurga dan tidak pula ia dapat menjauhinya dari neraka; demikian juga dengan aku (Nabi SAW), kecuali Rahmat Allah SWT”.[Hadis Sahih Riwayat Muslim]

            Hadis ini mengandung makna bahwa meskipun kita telah banyak melakukan amal shaleh, jangan lantas dibanggakan dan merasa sebagai ahli syurga, sehingga bisa jadi kita meremehkan kebaikan orang lain yang menurut pandangan kita cuma sedikit amal salehnya.  Karena semua ada di Tangan Allah, maka sebaiknya tetap hati-hati dan terus memperbaiki amal saleh kita. Sebab, semua itu akan sia-sia belaka andai kata tidak karena rahmat (kasih saying Allah SWT).

Seorang Sahabat bernama  JABIR RA bercerita bahwa: Nabi SAW pernah memanggilnya dan menyampaikan: “Malaikat Jibril baru saja datang kepadaku dan mengatakan bahwa ada Hamba Allah yang beribadah Selama 500 tahun di atas gunung di tengah lautan, Tinggi gunung itu adalah  30 dzira’, Luas Laut yang mengelilinginya 4000 farsakh. Di sampingnya terdapat Air tawar yg keluar dari bawah gunung sebesar jari tangan dan juga ada Pohon apel di dekatnya yg selalu berbuah setiap malam. Siang hari hingga malam dia beribadah dan sorenya mengambil air dan memetik buah apel. Suatu ketika, hamba tersebut  memohon pada Allah agar  mematikan dalam keadaan sujud dan memohon agar dijaga jangan sampai bumi dan lainnya menggangu sampai ia dibangkitkan”.

Kata Malaikat Jibril: “Allah mengabulkan permintannya  dan aku (Jibril) selalu melewatinya, ia  tetap dalam keadaan sujud saat aku naik turun ke bumi. Akupun (kata Jibril) berdasarkan “ilmu” menemukan bahwa orang ini akan dibangkitkan dan saat hamba ini di hadapan Allah, lalu Allah berkata pada para malaikat:

  • Allah: “Masukkan HambaKu ini ke surga karena RahamatKu (belas-kasihanKu).
  • Hamba: “Tidak wahai Tuhanku, tapi Karena amalku”.

Perintah ini diulang-ulang oleh Allah sampai 3 kali dan hamba tersebut dengan angkuhnya tetap menolak dimasukkan syurga karena rahmat (kasih-sayang) Allah kepadanya. Hamba ini tetap ingin dimasukkan syurga karena amal ibadah yang telah dilakukannya selama 500 tahun tersebut. Lalu Allah bilang kepada Malaikat:

  • Allah: “Baiklah, Para malaikatKu: Ukurlah amal-ibadahnya dengan RahmatKu”
  • Ternyata ditemukan: sebuah nikmat berupa  “dapat Melihat” saja telah melingkup dan membungkus semua amal ibadahnya selama 500 tahun tadi, belum lagi rahmat-rahmat yang lainnya.
  • Allah: “Bawa lagi dia ke hadapanKu”.
  • Allah: Wahai hambaKu, siapa yg menciptakanmu, padahal sebelumnya kau bukan apa-apa & bukan siapa-siapa?
  • Hamba: “Engkau Wahai Tuhanku”.
  • Allah: Siapa yg memberimu kekuatan sehingga engkau mampu beribadah 500 th..?
  • Hamba: “Engkau Wahai Tuhanku”.
  • Allah: Siapa yg menempatkanmu di sebuah bukit, di tengah lautan, dan siapa yg mengeluarkan air tawar serta memberikan buah apel yang setiap hari kau mengambilnya, dan siapa yg mencabut nyawamu dalam keadaan sujud?
  • Hamba: “Engkau Wahai Tuhanku”.
  • Allah: Nah.. Itu semua karena RahmatKu, karena itu, masuklah surga juga karena rahmatKu”. Engkau adalah salah satu hambaku yg terbaik.

Semoga dapat diambil hikmahnya dan kita menjadi hamba yang selalu berbuat kebaikan tanpa mengharapkan imbalan, kecuali rahmat dan ridloNya. Imam Ali Karromallahu Wajhah dalam kitabnya nahju al-balaghah mengatakan bahwa:

 “sebaik-baik hamba, bukanlah orang yang banyak amal kebajikan tapi dibanggakan, akan tetapi hamba yang terbaik adalah mereka yang pernah melakkan kesalahan (dosa) tapi segera bertobat dan kembali ke jalan yang diridloi oleh Allah SWT”.


Leave a Reply